Pattodong; pilihan hidup masyarakat miskin kota

Galeri

Perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi akhir-akhir ini telah menimbulkan dampak yang sangat kompleks bagi kehidupan seluruh lapisan masyarakat. Sebagai warga masyarakat, kitapun dituntut untuk menghadapi dan meresepon perubahan tersebut sebagai suatu proses dalam menuju masyarakat Indonesia yang maju dan modern.

Perubahan yang terjadi dapat dilihat dari realitas kehidupan yang kita jalani saat ini. Hal tersebut memberi gambaran salah satunya tentang perkembangan akan pemenuhan kebutuhan hidup yang kian lama semakin tinggi, sehingga hal tersebut memberikan beban tersendiri bagi sebagian orang untuk memenuhi dan melengkapi kebutuhan hidupnya untuk dapat bertahan hidup (survive). Usaha ini tergambarkan dari segala bentuk tindakan dan perilaku manusia yang dilakukan agar mereka dapat bertahan di tengah laju perubahan yang begitu derasnya.

Umumnya, semua manusia pasti memiliki tindakan-tindakan yang membantu mereka dalam mengisi kehidupan ini. Semua yang mereka kerjakan lewat tindakan adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan sebagai manusia. Dalam tindakan tersebut terdapat dua kategori yang dapat mengawakili wacana tindakan manusia, yaitu tindakan positif dan tindakan negatif. Tindakan positif berarti tindakan ini yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuan dengan cara mengutamakan aturan-aturan norma hidup, nilai aturan, dan tidak memberikan pengaruh buruk terhadap orang lain dan lingkungan sosialnya. Sedangkan tindakan negatif adalah suatu usaha manusia dimana untuk mencapai tujuan tertentu, mereka tidak lagi melihat pada aturan-aturan hidup, baik itu norma sosial maupun etika agama. Itu artinya, tindakan negatif adalah tindakan yang dilakukan dengan mengkesampingkan nilai norma, dan memberikan kerugian bagi orang lain dan lingkungan sosialnya.

Ironisnya, laju perkembangan zaman seolah-olah memaksa setiap orang untuk bisa bertahan serta melangsungkan kehidupannya. Hal inilah menjadi alasan mengapa banyak orang yang melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka inginkan, meskipun hal tersebut tidak mendapatkan dukungan sosial dari masyarakat. Mengapa penolakan terjadi? Sebab apa yang diinginkan seseorang, belum tentu sesuai dengan kaidah dan aturan normatifitas yang berlaku di dalam sebuah masyarakat. Sebagaimana makhluk sosial yang menjadi bagian masyarakat, manusia diperhadapkan pada aturan-aturan tertentu yang senantiasa mengikat mereka dalam bertindak dan berperilaku. Pada kategori inilah, tindakan yang melawan arus dapat dianggap sebagai tindakan negatif (Lihat buku-buku tentang ajaran moralitas J).

Tindakan yang tergambarkan sebagai kerja merupakan satu tindakan yang memiliki tujuan untuk pemenuhan berbagai kebutuhan hidup. Secara sederhana, dapat kita definisikan tindakan adalah perbuatan, perilaku atau aksi yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan tertentu -dalam hal ini segala bentuk perbuatan atau aksi untuk mendapatkan kategori-kategori kepuasan hidup- anggota masyarakat. Tindakan kerja dapat berupa, Tukang becak, Pegawai Negeri Sipil (PNS), nelayan, Pelayan, Karyawan Kantor, Supir Angkutan kota, Pedagang, Pengusaha, Pekerja Seks (PS), Tukang Ojek, Pencuri dan Perampok dll. Semua jenis pekerjaan tersebut merupakan tindakan mereka  untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Faktanya, perkembangan zaman yang serba cepat senantiasa berbanding lurus dengan perkembangan kejahatan di dalam masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari paparan diatas, bahwa dalam konteks sekarang ini, ruang kerja yang ada sangat terbatas sehingga banyak orang cenderung melakukan tindakan yang mereka anggap sebagai satu-satunya pilihan untuk dapat bertahan hidup. Salah satu pilihan tindakan yang dipandang sebagai suatu usaha yang dilakukan dengan kesadaran murni untuk melakukan pekerjaan tersebut adalah pattodong (penodong/perampok).

Maraknya kejahatan perampokan penodongan (pattodong) yang terjadi di kota Makassar akhir-akhir ini, memberikan satu dorongan untuk menjadikan studi berkaitan dengan hal tersebut. Satu hal yang menjadi dasar dari penulis bahwa keterpaksaan mereka akan pekerjaan tersebut berasal dari kesadaran akan realitas hidup yang dirasakan memberi beban tersendiri bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kompetisi kerja serta beratnya syarat-syarat yang diajukan untuk mengakses pekerjaan tertentu, juga menjadi alasan kuat mengapa pattodong menjadi pilihan yang harus diambil oleh seseorang.

Kenyataannya, perampok merupakan pelaku tindak kejahatan yang didasari oleh kesadaran mereka bertindak dan berperilaku yang memberikan kerugian bagi orang lain dan memberikan efek tersendiri bagi lingkungan social yang ditempati. Pengaruh akan tindakan mereka sangat menarik untuk dikaji, karena pekerjaan (tindakan) yang mereka geluti merupakan satu kesadaran murni akan konsekuensi atas apa yang mereka lakukan. Sepintas jika dilihat, orang-orang dapat beranggapan bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang “tidak rasional” karena dalam melakukan pekerjaan tersebut mereka tidak memikirkan konsekuensi yang nanti akan didapatkan. Akan tetapi, pekerjaan ini ada, dan bisa jadi tetap ada jika tidak ditemukan solusi pemecahannya.

Pekerjaan manusia sebagai perampok adalah tindakan yang memberikan kita jawaban atas pergelutan hidup untuk dapat bertahan dalam konteks perekonomian Negara yang hingga sekarang harga kebutuhan hidup masih sangat mahal bagi mereka yang terpaksa melakukan pekerjaan tersebut. Layaknya, pekerja lainnya seperti Tukang Becak, Pegawai Negeri Sipil, Nelayan, perampok juga memiliki alasan tentang pekerjaan yang mereka geluti. Keterbatasan akan kehidupan dalam segi ekonomi pendapatan, tingkat pendidikan mereka yang rendah, tingkat kepuasaan mereka terhadap materi kepuasaan yang minim terpenuhi membuat mereka terpaksa melakukan pekerjaan tersebut. Hal ini, bukan berarti bahwa mereka melakukan pekerjaan ini berdasarkan faktor diatas. Beberapa factor diatas tidak menjamin mereka atau mendorong mereka melakukan pekerjaan tersebut. Jika dipikirkan berdasarkan hal-hal diatas, mereka dapat berusaha dan bekerja sebagai Tukang Becak, Buruh Kapal, Buruh Bangunan, supir angkutan kota, tapi mengapa mereka lebih memilih menjadi “Perampok” yang secara sadar merupakan jenis pekerjaan yang dapat memberikan bahaya bagi diri mereka dan dapat dijerat hukuman sebagai konsekuensi pekerjaannya. Pekerjaan sebagai perampok adalah jalan bagi beberapa orang untuk menemukan solusi dalam berbagai permasalahan hidup mereka namun tetap mereka jalani, dan realitasnya, sebagai perampok, konsekuensi  untuk terjerat hukum atas apa yang mereka lakukan sangat minim dikarenakan profesional kerja mereka yang sangat bersih.

Pekerjaan seperti ini haruslah memiliki kekuatan psikis yang kuat, dalam artian berani terhadap konsekuensi, professional, dan keyakinan yang kuat dalam menjalankan pekerjaan sehingga proses kerjanya dapat berjalan lancer. Pada dasarnya, mereka bekerja bukan secara individu tapi mereka berkelompok dan memiliki satu bentuk kelompok kecil yang dipimpin oleh seseorang yang dianggap mampu mengornasir operasi kerja dan mengetahui anggota kelompok lainnya, dan ada pula seseorang yang berperan sebagai penadah barang hasil operasi mereka. Ketentuan akan Penjaringan anggota tidak mudah, seorang pemimpin kelompok harus dengan cerdas memilih anggota yang memiliki kesetiaan pikiran dan perkataan, memenuhi criteria, dan hal ini berlaku sama pada penadah, dimana pemimpin kelompok harus mengetahui latar belakang penadah, mengenal baik penadah yang dapat menyembunyikan kerahasiaan dan jujur, jika hal ini terpenuhi maka secara langsung mereka dapat menjalankan strukutur kelompok mereka dengan baik dan tanpa masalah apapun.

Menurut hemat penulis, persoalan yang menjadi salah satu point penting dalam kajian ini selain penjaringan anggota mereka adalah hubungan sosial antara pelaku (pemimpin kelompok) dengan anggota dan seorang penadah memiliki tujuan masing-masing dan saling memberikan bantuan. Hubungan ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka, dimana dalam pekerjaan, mereka saling membantu satu sama lain, antara pemimpin kelompok dan anggotanya maupun antara pemimpin kelompok dengan penadah barang rampokan. Bagi penulis, hubungan ini dapat dikatakan sebagai hubungan kerja dimana hubungan ini memberikan keuntungan yang timbal balik bagi semua pihak yang berada didalamnya. Hubungan kerja yang dijalani inilah yang menjadi point penting dan menarik bagi penulis dalam membahas profesi kerja sebagai perampok.

Gambaran tentang operasi kerja perampok di Makassar, mencakup  sebagian wilayah kota Makassar  yang telah menjadi lokasi sasaran operasi mereka, modus operasi yang dilakukan adalah penodongan dengan menggunakan kendaraan bermotor sebagai alat transport mereka untuk menjalankan operasi, dan operasi ini dilakukan dengan melihat kondisi lokasi yang terlihat aman, dimana jika mereka melihat korban yang terlihat santai dan tidak hati hati seperti mempertontonkan benda berharga yang mereka miliki maka dengan itu mereka menjalankan operasinya, namun jika suasana tidak mendukung, maka mereka tidak menjalankan operasi kerjanya. Sederhananya, operasi kerja mereka tidak akan pernah berhasil disaat tidak adanya strategi yang diberikan oleh pemimpin kelompok mereka sehingga operasi kerja dapat berjalan lancar, cerdas dalam melihat korban, keterampilan pembawa motor (Joki), penguasaan lokasi operasi, dan adanya permintaan dari penadah barang rampokan.

Ketergantungan diantara mereka inilah yang memberikan gambaran tentang pekerjaan layaknya pekerja lainnya yang memiliki ketergantungan terhadap sistem kerja. Sehingga bagi penulis, pekerjaan sebagai perampok merupakan pekerjaan yang ketentuan akan keberhasilan proses kerjanya sama dengan pekerjaan yang dilakukan manusia yang berprofesi lain. Perbedaannya hanya terletak pada nilai yang diperolah dari jenis kerja mereka yang dipandang menyimpang. Hal ini dikarenakan label “berusaha” dalam kehidupan mereka sebagai tindakan untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan hidup mereka adalah satu kebaikan bagi mereka tersendiri jika menjadi seorang perampok adalah pekerjaan yang secara sadar merupakan keinginan mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s