“Perempuan-Perempuan Basah”

Galeri

Perempuan Pencuci Mobil (Studi Kasus Peran Perempuan Dalam Sektor Ekonomi Informal Kota)

Pertumbuhan ekonomi yang tidak berimbang disertai perkembangan kebutuhan rumah tangga merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di perkotaan. Sehingga untuk mempertahankan hidup pada taraf sederhana, baik pria maupun wanita dan anak-anak sebagai anggota rumah tangga melakukan beragam jenis kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga merupakan sumber daya manusia yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan anggota keluarganya dan salah satu unsur dalam keluarga yaitu perempuan atau istri/ibu, yang terlibat langsung dengan usaha peningkatan dan kesejahteraan dalam hal pengelolaan ekonomi rumah tangga. Sebagaimana Bukit dan Bakir (dalam Idris 1997:3) yang menjelaskan bahwa :

Wanita yang bekerja cenderung untuk memperbaiki taraf hidup keluarga mereka, yang bertujuan untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan. Pendapatan rumah tangga merupakan hasil usaha bersama dari semua anggota keluarga yang mampu bekerja dan digunakan untuk semua anggota rumah tangga sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang ada dengan pengeluaran tertinggi ada pada pos pangan.

Senada dengan hal di atas, Murniati (2004:135) menjelaskan bahwa :

Dengan terus berkembangnya suatu kebudayaan yang juga dipengaruhi oleh faktor utama yaitu keadaan ekonomi yang rendah, kemudian perempuan dikenal sebagai kaum pekerja keras.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa keterlibatan kaum perempuan dalam kegiatan ekonomi atau partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan atau memperoleh pendapatan guna memperbaiki taraf hidup keluarga mereka. Dimana pendapatan rumah tangga merupakan hasil usaha bersama dari semua anggota keluarga yang mampu bekerja dan digunakan untuk semua anggota rumah tangga sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang ada.

Merujuk dari hal di atas, dapat dikatakan bahwa ketika perempuan ikut terlibat dalam pemenuhan ekonomi rumah tangga di sektor publik, maka terdapat pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan disektor tersebut. Dimana pembagian kerja yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan diberbagai sektor dimaksudkan untuk penguatan ekonomi didalam rumah tangga. Dengan kata lain, terdapat perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam hal partisipasi kerja. Sehingga jika peranan perempuan bila ditinjau dari pekerjaan atau kegiatan bekerja akan mempertajam konsep peranan perempuan dalam kesatuan keluarga dan rumah tangga. Dengan demikian, dalam menelaah peranan perempuan, berarti kita dapat mendasarkan diri pada adanya pembagian kerja antara sesama anggota keluarga yang menunjukkan adanya differensiasi peran dalam keluarga yang menyangkut sistem kekerabatan dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Sejalan dengan hal ini Hardjono (1985:23-25) bahwa :

Keterlibatan perempuan terutama, terutama ibu rumah tangga dalam pekerjaan yang mendatangkan hasil dapat dilihat dari dua aspek yaitu, adanya kesempatan dan terbukanya peluang terhadap kesempatan tersebut bagi mereka. Dimana aspek pertama erat kaitannya dengan tugas pokok mereka sebagai ibu rumah tangga dan aspek yang kedua sangat bergatung kepada kesempatan kerja yang tersedia termasuk segala macam bentuk kualifikasi yang dipersyaratkan lapangan kerja tersebut. Terutama pada sektor formal. Sehingga banyak perempuan yang memilih pekerjaan pada sektor informal dikarenakan keterbatasan pendidikan, modal yang terbatas, keterampilan yang rendah serta norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Dari uraian konsep di atas, dapat dilihat bahwa kedua aspek yang dikemukakan berkaitan dengan dua hal penting, dimana aspek pertama sangat erat hubungannya dengan durasi waktu luang yang dimilki oleh kaum perempuan sehubungan dengan tugas mereka sebagai ibu rumah tangga. Sehingga semakin besar waktu luang mereka setelah mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya, maka semakin besar pula kesempatan mereka untuk ikut terlibat dalam kegiatan di sektor publik. Sedangkan aspek kedua lebih bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan sesuai ketentuan yang dipersyaratkan bagi mereka (terutama dalam sektor formal) yang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimilki oleh kaum perempuan.

Pada dasarnya perempuan yang terlibat dalam pekerjaan mencari nafkah akan mempengaruhi pola kerja rumah tangga, dengan demikian akan mempengaruhi pula fungsi wanita itu sendiri. perempuan yang disatu sisi bekerja mencari nafkah tetapi tetap menjadi orang pertama dalam kegiatan rumah tangga disebut dengan peran ganda. Dengan peran ganda tersebut berarti perempuan memberikan sumbangan yaitu yang langsung memberikan penghasilan namun memungkinkan berlangsungnya kegiatan produktif.

Perempuan yang berperan ganda dan memilih sektor informal sebagai tempat mencari nafkah, dapat dikatakan menciptakan peluang kerja bagi dirinya sendiri maupun anggota rumah tangga lainnya. Pilihan bekerja di sektor informal, memungkinkan anggota rumah tangga ikut terlibat untuk bekerja dan kemungkinan penghasilan rumah tangga juga semakin besar. Dalam hal pola kerja, disektor informal sebagai tempat mencari nafkah yang mempunyai ciri-ciri antara lain jam kerja tidak teratur, lokasi biasanya tidak jauh dari tempat tinggal, dalam bekerja tenaga kerjanya bekerja dan berusaha sendiri atau dibantu oleh tenaga kerja keluarga dan sifatnya yang mudah keluar masuk dalam suatu pekerjaan, mempunyai “kecocokan” dengan pola kerja perempuan yang dituntut untuk berperan ganda yakni di samping sebagai pencari nafkah, tetap dapat melakukan pekerjaan rumah tangga dan kegiatan sosial. Sejalan dengan hal ini Boserup (dalam Hardyastuti 1991:78) menjelaskan bahwa :

Pada dasarnya bagi perempuan, khususnya yang tinggal di daerah pedesaan atau perkotaan dan miskin, peran ganda bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Bagi golongan ini, peran ganda telah ditanamkan oleh orang tua mereka sejak mereka masih berusia muda. Bagi seorang anak yang orang tuanya kurang mampu, ia tidak dapat bermain-main seperti anak dari keluarga kaya, karena di bebani kewajiban bekerja oleh orang tua mereka.

Lebih lanjut Boserup (dalam Hardyastuti 1991:81) menjelaskan bahwa :

Dipilihnya pekerjaan di sektor informal oleh kaum perempuan karena jenis pekerjaan di sektor informal tidak memerlukan atau menuntut banyak persyaratan seperti, pedagang kecil, buruh, pembantu rumah tangga dan lain sebagainya. Sehingga mereka tetap bisa menjalankan dan menjaga keutuhan rumah tangganya serta membantu pendapatan ekonomi rumah tangganya. Adapun ciri-ciri pekerjaan di sektor informal yaitu : kegiatan usaha tidak teratur dan terorganisasi dengan baik, tidak ada isin usaha, pola kegiatan tidak teratur, jam kerja tidak teratur dan tetap, kebijakan dan bantuan pemerintah tidak ada, pekerja dapat dengan mudah masuk atau keluar, penggunaan teknologi masih sederhana dan tradisional, modal dan usaha tergolong kecil, tidak membutuhkan keterampilan dan keahlian khusus, tidak memerlukan pendidikan formal dan hanya berdasarkan pengalaman dan umumnya dilakukan oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Dengan demikian, dapat dikatakan perempuan yang bekerja di sektor informal tetap dapat menjaga keutuhan dan kemantapan rumah tangganya. Dimana keterlibatan perempuan dalam pencarian nafkah dalam hal ini pencarian nafkah disektor informal menunjukkan peranan perempuan semakin nyata dalam alokasi ekonomi, karena perempuan mempunyai pendapatan pribadi yang berpengaruh terhadap alokasi kekuasaan atau peranannya dalam pengambilan keputusan didalam keluarga dan rumah tangga. Hal tersebut mencerminkan peningkatan terhadap sikap kemandirian serta percaya diri dari perempuan yang pada akhirnya akan meningkatkan statusnya. Sebagaimana Rosaldo (dalam Chafetz 1988:42) menjelaskan bahwa :

Untuk dapat mengurangi ketidaksetaraan perempuan dengan laki-laki, maka perempuan harus terlibat langsung ke dunia luar atau dengan masyarakat. Dengan demikian, perempuan yang mempunyai penghasilan sendiri dan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, dapat meningkatkan status dan perannya di bidang ekonomi keluarga dengan laki-laki khususnya dalam pengambilan keputusan.

Konsep di atas, menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi, dapat mempengaruhi peningkatan status dan peran perempuan di dalam keluarganya, akan berakibat pada pembagian kembali peranan antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga yang mempengaruhi masyarakat sekitar, sehingga akan terjadi perubahan di bidang sosial khususnya peranan perempuan di sektor ekonomi.

Maraknya keterlibatan kaum perempuan dalam angkatan kerja khususnya di sektor informal dalam kondisi kekinian menjadi sangat menarik bila ditelaah lagi, guna lebih mengetahui secara jelas dan sistemik akan kehidupan perempuan yang bergerak atau bekerja di sektor informal. Alasan inilah yang menjadi pembenaran kuat guna diteliti secara mendalam dengan melibatkan dan mengedepankan aspek pendekatan sosial dan budaya. Dengan kata lain bahwa gejala sosial ekonomi yang melibatkan kaum perempuan dalam sektor informal, merupakan fenomena yang bukan hanya terjadi diberbagai kota-kota besar di Indonesia, tetapi juga sudah banyak terjadi di daerah Sulawesi Selatan khususnya di kota Makassar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s