Pola Interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun

Galeri

Indonesia yang dikenal sebagai salah satu diantara beberapa negara didunia merupakan negara yang berada dalam tahap pembangunan. Dimana pada hakekatnya pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur yang merata, material serta berkesinambungan. Namun demikian pelaksanaan pembangunan tidak semuanya memenuhi harapan masyarakat sebagai akibat adanya ketimpangan yang terjadi baik antara daerah maupun antara desa dan kota. sehingga dalam era pembagunan dewasa ini, masyarakat perkotaan sering diindektikkan sebagai masyarakat yang prulal. Dikatakan demikian karena daerah perkotaan menjadi pusat kehidupan yang ramai dkunjungi atau didatangi oleh orang-orang yang dari desa atau daerah lain, dalam rangka usaha pemenuhan kebutuhan hidup yang tentunya masing-masing membawa kebudayaan yang berbeda-beda.

Seperti halnya kota-kota besar di Indonesia, kota Makassar telah mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan, termasuk pembangunan tempat-tempat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat hunian seperti perumahan dan rumah-rumah susun. Sebagai sebuah kota, masyarakat kota Makassar mengikuti kehidupan irama perkotaan yang cepat, sehingga usaha untuk mendapatkan pekerjaan, fasilitas transportasi dan khususnya tempat tinggal menjadi pertarungan antar warga dalam wilayah perkotaan yang pluralitas. Sehingga pluralitas ini pula yang kemudian menyebabkan pola interaksi pada masyarakat kota memiliki atau tepatnya menciptakan aturan dan sistemnya sendiri. Sejalan dengan hal ini Abdullah (2006 : 44) menjelaskan bahwa :

Jika terjadi perpindahan kebudayaan satu ke dalam kebudayaan lain, maka akan mengalami proses sosial budaya yang dapat mempengaruhi mode ekspresi diri setiap orang dan pembentukan suatu identitas.

Hal senada juga diungkapkan oleh Gillin dan Gillin (dalam Soerjono Soekanto 1990 : 67) bahwa :

Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.

Dengan demikian, dapat diartikan bahwa didalam hubungan antara manusia dengan manusia lainnya akan melahirkan interaksi sosial. Sehingga interaksi sosial diposisikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial. Dikatakan demikian karena pada dasarnya interaksi merupakan hubungan sosial antar individu, antar kelompok, maupun antar individu dengan kelompok. Dimana interaksi antar manusia tumbuh sebagai suatu keharusan bio-psikologis manusia yang harus dipenuhi atau dengan kata lain segala tindakan manusia disebabkan karena dorongan organism maupun karena tuntutan lingkungan alam, hasrat-hasrat psikologis atau karena pengaruh masyarakat dan kebudayaan. Sejalan dengan hal ini E.B. Tylor (dalam Selo Sumarjan : 68) mendefenisikan kebudayaan bahwa :

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetauan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan kemampuan lain seperti kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan perkataan lain kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Senada dengan hal di atas, Selo Sumarjan dan Soelaeman (dalam Sawe 1979 : 41) mendefinisikan kebudayaan dan masyarakat bahwa :

Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabbdikan untuk masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Didalamnya termasuk misalnya agama, ideology, kebatinan, kesenian dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Sedangkan Masyarakat sendiri adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu bahasa yang biasanya tidak dimengerti dan dimengerti oleh penduduk tetangganya.

Uraian konsep di atas dapat diartikan bahwa dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah pola-pola budaya yang ideal, dimana pola-pola ini cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Dengan kata lain bahwa bertemunya berbagai masyarakat ataupun kelompok sosial pada suatu wilayah dapat menimbulkan terjadinya kemungkinan proses sosial yaitu hubungan sosial yang didasari oleh interaksi sosial yang terjadi baik yang sifatnya positif ataupun yang sifatnya negatif . Sehingga interaksi sosial diposisikan sebagai dasar atau bentuk utama dari proses sosial, karena tanpa interaksi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama, interaksi sosial juga dapat dianggap sebagai hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antara manusia sebagai anggota masyarakat.

Secara teoritis, sekurang-kurangnya ada dua syarat bagi terjadinya interaksi sosial. Sebagaimana hal yang di ungkapkan oleh Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2004 : 16) bahwa :

Terjadinya Interaksi sosial dikarenakan adanya kontak sosial dan komunikasi. Dimana interaksi sosial merupakan salah satu wujud dari sifat manusia yang hidup bermasyarakat dan adapun ciri-ciri interaksi sosial yaitu : 1) ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang. 2) ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol. 3) ada dimensi waktu yang menentukan sifat-sifat aksi yang sedang berlangsung. 4) ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat. Sedangkan bentuk-bentuk interaksi sosial yang paling dasar yaitu : kerja sama (cooperation), persaingan (competition), akomodasi atau penyesuaian diri (accommodation), pertentangan dan pertikaian (conflict).

Jadi dapat diartikan bahwa dari hubungan interaksi tersebut tingkah laku individu/masyarakat dalam hubungannya dengan individu/masyarakat lainnya maupun lingkungannya menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam berbagai faktor yang dapat menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku. Sehingga terdapat hubungan fungsional antara tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan pelaku interaksi, yang lambat laun akan memunculkan pengaruh baik yang bersifat positif ataupun negatif. Dimana pengaruh yang sifatnya positif bisa saja bermuara pada pembentukan rasa kebersamaan/solidaritas diantara anggota masyarakat, yang mana ikatan kebersamaan/ solidaritas tersebut dapat dijadikan suatu kekuatan baik dalam menghadapi lingkungan pekerjaan maupun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain bahwa pada dasarnya interaksi sosial diposisikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial. Dimana hubungan antara manusia dengan manusia lainnya maupun masyarakat dengan masyarakat melalui hubungan sosial yang berdasar pada interaksi sosial dapat menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam berbagai faktor yang juga dapat menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s