Warung Remang-Remang

Galeri
warung remang2

warung remang2

“WARUNGNGE”

(Studi Tentang Strategi Pemilik Warung Remang-Remang Dalam Mempertahankan Eksistensi Usahanya di Desa Mandalle Kabupaten Pangkep)

Laju pertumbuhan penduduk yang cepat tanpa diiringi oleh ketersediaan lapangan kerja mengakibatkan peningkatan jumlah pengangguran yang semakin pesat. Alternatif yang dianggap dapat menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan dalam masyarakat baik yang ada di daerah perkotaan maupun pedesaan, salah satunya adalah dengan menciptakan usaha sendiri yaitu usaha sektor informal. Sebagaimana Mazumdar (1985 : 16) menjelaskan bahwa :

Sektor informal lahir dari manifestasi ketidakmampuan sektor modern/formal menyerap tenaga kerja berlebih yang dipengaruhi laju pertambahan penduduk yang sangat tinggi. Sehingga umumnya sektor informal bersifat ‘transitoris’ sebagai wadah penampungan tenaga kerja diman pelaku- pelakunya dianggap memilih sektor informal sebagai alternatif penyelesaian masalah ketenagakerjaan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sektor informal sebagai salah satu lapangan kerja alternatif untuk menanggulangi masalah ketenagakerjaan di perkotaan dan di pedesaan. Dengan kata lain, sebagai salah satu bentuk usaha yang perlu diberdayakan, maka kehadiran sektor informal ini sangat memegang peranan penting dalam proses penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat, yang berfungsi sebagai penyelamat dalam menyalurkan tenaga kerja yang belum tertampung di sektor modern/ formal. Sejalan dengan hal ini Manning dan Effendi (1985 : 8) mendefinisikan sektor informal sebagai sektor ekonomi marginal (kecil- kecilan) yang mempunyai ciri- ciri antara lain :

Umumnya dilakukan dan melayani golongan masyarakat yang berpendapatan rendah. 2) Tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, sehingga secara luas dapat menyerap bermacam- macam tingkat pendidikan dan tenaga kerja. 3) Tidak mengenal sistem perbankan, pembukuan, perkreditan, dan lain sebagainya. 4) Sektor informal kehadirannya sering dianggap menimbulkan kerugian sosial seperti ketertiban tata ruang.

Kesanggupan sektor informal dalam menampung tenaga kerja, banyak didukung oleh faktor-faktor yang ada, dimana ciri dari sektor kerja ini, yakni tidak memerlukan persyaratan dan tingkat keterampilan yang tinggi serta modal kerja, pendidikan ataupun sarana yang dipergunakan semuanya serba sederhana dan mudah dijangkau oleh setiap anggota masyarakat, sehingga mereka yang belum memiliki pekerjaan dapat terlibat di dalamnya. Dengan kata lain, sektor kerja informal merupakan alternatif pemecahan dalam mengatasi ketenagakerjaan yang dihadapi oleh sekian banyak anggota masyarakat.

Secara umum, perkembangan sektor informal juga telah banyak ditemukan di daerah pedesaaan selain di daerah perkotaan. Dikarenakan, banyak perubahan-perubahan yang terjadi di daerah pedesaan, baik dari segi pertumbuhan ekonomi ataupun  pembangunan. Salah satu, kegiatan ekonomi dalam sektor informal yang banyak digeluti oleh masyarakat di pedesaan untuk mengatasi masalah ketenaga kerjaan adalah kewiraswastaan. Sebagaimana Sethuraman (dalam Manning dan Effendi 1985 : 47) menjelaskan bahwa sektor informal yang banyak ditemukan di daerah pedesaan adalah usaha berwiraswasta atau usaha sendiri. Mereka yang berusaha dalam sektor ini biasanya miskin, memiliki keterampilan yang kurang, dan berpendidikan rendah.

Sektor informal yang banyak digeluti dalam masyarakat pedesaan adalah sektor wiraswasta atau usaha sendiri, dikarenakan mereka yang bergelut dalam sektor ini umumnya berpendapatan rendah/miskin serta memiliki keterampilan yang tidak memadai dan tingkat pendidikan yang rendah. Sejalan dengan hal ini Temple (dalam Manning dan Effendi 1985 : 13) mengungkapkan bahwa Dalam masyarakat pedesaan, banyak terdapat kegiatan di sektor informal seperti banyak di temukan kumpulan pedagang/penjual atau penyedia jasa kecil yang dari segi produksi dan secara ekonomis sangat membantu masyarakat pedesaan dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

Lebih lanjut, Temple (dalam Manning dan Effendi 1985 : 14) mengungkapkan bahwa beberapa hal yang menyebabkan sesorang memilih bekerja sebagai pedagang/penjual yaitu : a) faktor ekonomi, ini tidak karena ekonomi yang melilit/faktor kemiskinan. Didalamnya terdapat status yang lebih baik. Kemiskinan kronis tanpa jalan keluar menyebabkan banyak orang berputus asa sehingga memilih bekerja sebagai pedagang/penjual untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang mudah. b) faktor keluarga, pedagang/penjual merupakan usaha kecil disektor informal dan salah satu ciri-ciri dari sektor informal ini adalah umumnya tiap-tiap satuan usaha ,memperkerjakan tenaga yang sedikit dan dari lingkungan kenalan atau yang berasal dari daerah yang sama. Jadi faktor keluarga sangat memungkinkan seseorang terlibat dalam sektor kerja ini. c). faktor lingkungan d). faktor pendidikan.

Merujuk dari hal di atas, dalam kaitannya dengan penanggulangan masalah ketenagakerjaan di daerah pedesaan, masyarakat di Desa Mandalle Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan juga melakukan hal yang sama, dimana salah satu sektor informal yang tumbuh dan berkembang di daerah ini adalah kedai/warung yang dalam istilah lokal masyarakat Mandalle dikenal dengan istilah warungnge. Hal ini merupakan salah satu solusi yang dianggap dapat mengurangi semakin bertambahnya masalah pengangguran. Bagi masyarakat Mandalle secara umum, bergelut di sektor informal lebih mudah daripada bersaing di sektor formal. Dikarenakan, selain semakin sengitnya persaingan, sektor formal juga memerlukan spesialisasi- spesialisasi tertentu bagi setiap tenaga kerjanya, sehingga terlibat di sektor informal seperti mendirikan usaha warungnge merupakan solusi yang sangat berperan atau penting bagi mereka dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat di Desa Mandalle itu sendiri.

Pada awalnya, masyarakat di Desa Mandalle yang membuka usaha warungnge jumlahnya relatif sedikit, namun semakin lama semakin bertambah dan berlokasi pada tempat-tempat strategis di hampir sepanjang jalan di Kabupaten Pangkep. Adapun tujuan masyarakat di Desa Mandalle membuka usaha warungnge pada dasarnya untuk dijadikan tempat istirahat bagi supir-supir mobil atau para pengendara motor ketika melakukan perjalanan jauh.

Tempat tersebut (warungnge) biasanya mulai buka atau melayani konsumen pada pagi hari sampai subuh atau sekitar pukul 10.00-04.00 wita, dimana menu atau barang yang didagangkan/ditawarkan kepada konsumen berupa makanan dan minuman seperti kopi, teh, mie instan/mie siram, kue-kue, dan lain sebagainya. Akan tetapi dikondisi kekinian, variasi menu/barang yang ditawarkan para pemilik warungnge sebagai bagian dari strategi usaha semakin beragam, seperti minuman beralkohol/keras dan penyedian jasa pelayanan ‘wanita’ sebagai penambah nuansa menyenangkan bagi para konsumen yang bertujuan untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Sehingga muncul dan berkembangnya warungnge menimbulkan penilaian tersendiri bagi masyarakat di luar komunitas mereka/para pemilik warungnge. Dikarenakan, keberadaan warungnge oleh sebahagian masyarakat di Desa Mandalle dianggap sebagai sebuah tempat untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma atau nilai yang berlaku dalam masyarakat, seperti adanya warungnge yang berfungsi rangkap sebagai warung kopi sekaligus tempat menjajakan seks bahkan tempat menjual minuman keras/beralkhohol atau yang dikenal secara umum sebagai ‘warung remang-remang’.

Dengan kata lain, dalam pemenuhan kebutuhan hidup para anggota masyarakat yang berprofesi atau menggeluti usaha warungnge kadang tidak lagi memperhatikan norma atau nilai yang berlaku dalam masyarakat, karena yang utama bagi mereka adalah bagaimana mereka bisa hidup dengan layak, sehingga mereka melakukan apa saja untuk menarik konsumen dan hal ini kemudian menimbulkan penilaian tersendiri bagi masyarakat sekitar, baik secara positif maupun negatif.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s