Kekerasan terhadap Perempuan dalam Media Massa

Galeri

Oleh Achmad Dwisetyo Prayudhi Linggodjiwo*

Kekerasan Dan Budaya Patriarki Kekerasan terhadap perempuan merupakan isu yang sangat penting dan marak akhir-akhir ini terjadi.Betapa tidak perempuan saat ini mengalami sebuah fase yang sangat kritis,di mana kekerasan demi kekerasan terjadi di dalam sebuah rumah tangga dan kekerasan tersebut merambah ke sektor-sektor lainnya yang dianggap penting bagi kaum perempuan. Kekerasan ini terjadi sebagai akibat ideologi kultural dan tatanan nilai yang berlaku dalam masyarakat yang terkesan mendiskreditkan perempuan. Ia menempatkan perempuan pada posisi ke dua sebagai upaya melegalkan dominasi kaum laki-laki terhadap perempuan.

Menurut Nurul Ilmi Idrus (1999) kekerasan perempuan terbagi atas dua yaitu Domestic Violence dan Public Violence. Sistem budaya patriarki yang kental menyebabkan kekerasan terhadap perempuan semakin besar dan condong melemahkan kaum perempuan itu sendiri. Sistem ini sebenarnya merupakan sebuah sistem yang menekankan, perempuan tidak bisa berada dalam satu ranah bersama dengan laki-laki. Ini karena perempuan dianggap tidak mampu berada di sektor tersebut.

Dengan sistem seperti ini secara tidak langsung peran perempuan dalam gender pada masyarakat tradisional sukar berubah dan menimbulkan ketidaksetaraan. Oleh sebab itu, sistem ini memberikan hak istimewa kepada laki-laki dan mengorbankan hak perempuan. Konsep patriarki menentukan berbagai keputusan, kebijakan, peraturan, dan lain-lain yang mengambarkan kekuasaan laki-laki daripada memperhitungkan perempuan. Akibatnya adalah penjelasan-penjelasanya hanya ditujukan kepada laki-laki dan tidak memperhitungkan perempuan yang merupakan bagian dari masyarakat. Sehingga, sistem patriarki memicu terjadinya diskriminasi terhadap perempuan yang kelak akan menimbulkan ketimpangan gender.

Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam media Massa

Berita kekerasan sepertinya tidak pernah luput dari pemberitaan media massa. Apa lagi kasus kekerasan terhadap perempuan yang tampaknya tidak akan pernah berakhir. Temuan yang umum dan analisis serta potret kaum perempuan dalam media massa adalah kecenderungan untuk menampilkan sosok perempuan dalam bentuk stereotip tertentu.

Barang kali para pekerja media tidak bermaksud untuk menciptakan sebuah produk seperti iklan, berita, atau film yang bertujuan untuk memproduksi tindakan kekerasan terhadap perempuan. Akan tetapi, masyarakat bukanlah mahluk yang pasif. Penggunaan indikator-indikator jender yang dikenal dalam masyarakat secara tidak seimbang yaitu pen-stereotip-an sosok perempuan dalam media massa adalah salah satu efek samping yang menuju pada tindakan kekerasan.

Dalam menulis berita kriminal, wartawan yang dilatarbelakangi keinginan mengungkapkan fakta yang didapatkan di lapangan kerap menulis suatu peristiwa yang diceritakan secara detail. Namun sayangnya terkadang pengungkapan secara detail malah menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini khususnya terjadi pada pemberitaan yang mengungkap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan termasuk didalamnya pelecehan seksual (Kupas, 2001).

Secara umum, penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan adalah karena adanya budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dalam struktur dominasi kekerasan sering kali digunakan laki-laki untuk memenangkan pendapat, menyatakan tidak puas, mencegah perbuatan yang tidak puas terhadap perempuan. Minimnya jumlah berita mengenai perempuan di koran-koran, bukan menjadi indikator bagi tindakan kekerasan perempuan dalam dan oleh media. Cara memberitakan perempuan di berbagai media massa baik koran maupun televisi terkadang sangat berlebihan, sehingga pemberitaan ini menyudutkan kaum perempuan. Misalnya berita kriminal yang pelakunya laki-laki tidak akan diberi judul dengan mencantumkan kata laki-laki (kecuali laki-laki hidung belang). Jarang sekali dijumpai dengan judul : laki-laki pengedar narkoba dibekuk atau laki-laki pemalsu uang, dan sebagainya. Sementara itu julukan-julukan seperti ratu ngebor, ratu ekstasi, wanita pengedar narkoba, wanita nakal, yang diberikan pada pemberitaan kriminal yang pelakunya adalah perempuan.

Kesadaran akan nilai jual berita mengenai pelaku kriminal perempuan itu dibangun lewat konsep feminim-maskulin yang menjelaskan bahwa perempuan itu sangat halus dan lemah lembut sehingga tidak mungkin menjadi seorang kriminal. Dunia kriminal telah dipagari oleh kaum laki-laki, akibatnya saat perempuan tersandung kasus hukum kriminal maka media massa mengekspos secara berlebihan sehingga mempunyai nilai tersendiri bagi pembaca dan penulisnya.

Selain itu juga, pada saat terjadi razia PSK amatir mengapa yang dikejar-kejar oleh petugas tramtib dan wartawan hanya PSK-nya saja? Sementara laki-laki hidung belang tidak pernah ditangkap? Selanjutnya berita mengenai prostitusi juga hanya mengekspos penjaja seks sebagai fokus berita, juga liputan mengenai tempat lokalisasi lebih banyak mengungkap cerita mengenai perempuan pekerjanya, bukan mengenai banyaknya pengunjung yang membeli seks di tempat tersebut. Berita mengenai prostitusi lebih banyak mengungkap sejarah kehidupan para perempuan PSK tanpa disertai cerita mengenai sejarah kehidupan para laki-laki. Padahal kegiatan seksual tersebut dimotori oleh dua pihak yaitu pekerja seks perempuan dan pemakai jasa seks yang notabene adalah laki-laki.

Dengan demikian, pemberitaan di media massa mengenai kekerasan pada perempuan yang mula-mula ditunjukan untuk menyadarkan masyarakat atas tindakan yang tidak benar yang dilakukan laki-laki justru menjadi sebuah bumerang bagi perempuan itu sendiri, bahkan menjadi sebuah proses reproduksi kekerasan di tingkat wacana. Pembaca tidak lagi melihat sebuah hal yang tersurat dalam pemberitaan melainkan justru melihat hal yang tersirat dari sebuah pemberitaan di media massa mengenai kekerasan pada perempuan.

Kekerasan pada perempuan pun muncul karena perempuan itu sendiri dianggap sebagai pemicu lahirnya kekerasan terhadap dirinya, padahal masyarakat tidak melihat apa penyebab dari kekerasan tersebut. Kaitan antara kekerasan pada perempuan dan media massa adalah bahwa media massa juga kerap melakukan kekerasan terhadap perempuan dengan menampilkan perempuan sebagai alat jual, di mana perempuan umumnya tampil dalam iklan, promosi, dan menampilkan perempuan dalam objek jual bahkan menjadikan perempuan sebagai korban kriminal. Akankah perempuan selamanya seperti ini?

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin, Peminat Kajian Gender dan Seks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s