Bermula dari pidato Gubernur, lalu diliput di salah satu koran, kemudian ditanggapi berupa status FB, hingga akhirnya menjadi diskusi yang bermanfaat…

Galeri

Risal Suaib: “Saya, Bapak dan Ibu Saya Golkar, Dari Awal Golkar”, Tegas Syahrul Yasin Limpo Pada Refleksi HUT Ke-47 Partai Golkar Sulawesi Selatan. Trus, Saudara dan Ponakan Yang Di Demokrat dan Hanura Itu Juga Bagian Dari Golkar, Golkar Yang Lain Maksudnya Pak………..???

Amran Syaukani Anakx juga di PAN…

Akbar M Kurusi Enre’ biar tommi tawwa, namanya saja dunia politik. sepertinya teman2 juga dari ilmu politik…. wkwkwkwk.

Risal Suaib ada yang bilang fenomena itu fenomena politik yang deviant, kanda Akbar M Kurusi Enre’. tidak ada kasus seperti itu di dunia kecuali Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan tentunya. trus, dari pembacaan kita lewat koran Fajar disebutkan bahwa semua itu bukan soal kekuasaan. trus, apa ji kalo bukan kekuasaan. nah, karena itu musti kita gugat argumentasi tsb. betul tidak bro Amran Syaukani???

Akbar M Kurusi Enre’ simakki baik2 tawwa kalimatnya. apa ada yg salah. apa ada yg bohong. semua itu adalah pilihan. Yg salah adalah jika SYL bilang keluarga saya adalah keluarga Golkar. Yg mesti digugat kayaknya yg mengerti politik tapi menggugat hal tersebut. bagaiman bro amran? hehehehe…

Risal Suaib pernyataan ta itu kanda Akbar M Kurusi Enre’ malah menambah pusing orang. filosofinya begini: “tidak mungkin orang lain mau pilih kita punya partai kalo keluarga sendiri itu terpecah dalam kepentingan politik berbeda, dalam hal ini ada yang masuk ke partai lain”. menurutku, non-sense itu, kanda!!! dan menurutku lagi, itu contoh pendidikan politik yang sangat salah. kenapa? karena pengetahuan politik itu dimulai di keluarga, di meja makan……………..

Akbar M Kurusi Enre’ hahahaha… letak kebingungannya di mana bos? hanya cara memandangji yg beda. Sy justru melihat bahwa itulah pendidikan politik yang sebenarnya. Pengetahuan politik telah diberikan kepada anak2nya di meja makan. Ingat, pengetahuan politik sangat jauh berbeda dengan pemaksaan politik. Itulah demokrasi. Bukan sesuatu yng nonses bro. Bisa jadi anak atau saudara kita tidak sepaham dengan idiologi kita tapi justru orang lain sepaham dengan kita. Itulah demokrasi bro. Jangankan soal partai, soal agamapun kadang sang anak tidak mau mengikuti agama orang tuanya. Banyak contoh tentang hal itu. bagaimana bro amran? hehehehehe

Risal Suaib sepakat saja bahwa ada cara pandang berbeda dalam melihat politik kanda Akbar M Kurusi Enre’, dan itu bagian demokrasi juga. demokrasi yang deviant tentunya karena tidak terjadi di belahan dunia lain meski di negara macam Amerika yang kepartaiannya lemah, tidak ideologis, tidak juga terjadi hal seperti di Indonesia. jadi dalam hal ini saya memasukkannya ke dalam tarikan ideologis, karena politik itu bagi saya juga adalah soal soliditas kekuasaan. dan menurutku, itu tidak bisa kalo politik tidak disinggung sebagai aras perjuangan ideologi, terserah mau ideologi seperti apa!!! kanda bisa saja tidak setuju, itu demokratis kok. tetapi kanda musti setuju bahwa fenomena deviant di atas adalah cara/model dalam mengakumulasi kekuasaan, dan itu berhasil dengan baik dipraktekkan oleh keluarga besar SYL di Sulawesi Selatan…………..

Akbar M Kurusi Enre’ ‎1. Yang jelas anda tdk tepat soal penempatan konteks pengetahuan politik di mulai dari meja makan jika dihubungkan dengan persoalan yg anda angkat di status saudara. 2. apapun itu, SYL sangat demokratis kepada pilihan saudara, ponakan dan anaknya. 3. Apa ada yg salah dengan apa yg dilakukan oleh keluarga besar SYL dalam hal kekuasaan tersebut?. Dan jika kita balik, Jika SYL (dan ini tdk mustahil bisa dilakukannya) memasukkan semua anaknya, semua saudaranya, semua keponakannya di golkar dan semua berhasil meraih hasil menjadi anggota dewan baik tingkat pusat, provinsi, kabupaten, maka pa lagi komentar saudara?

Andrie Islamuddin Politik ,,, Etika Politik,,,,

Risal Suaib statusku jelas ji kanda Akbar M Kurusi Enre’, yakni soal gugatan dalam politik kita di Sulawesi Selatan, dan Indonesia umumnya. kenapa ada keluarga yang menempatkan kerabatnya di berbagai partai, dan ini coba saya bandingkan dengan praktek politik di tempat lain yang ternyata tidak terjadi hal seperti itu. dan karena itu saya menyebutnya sebagai ‘pengakumulasian kekuasaan’ semata. nah, kembali ke soal pengetahuan politik yang diadagiumkan sebagai ‘dimulai di meja makan’, itu tidak bisa dilepaskan dari arti ideologis dalam cara kita memandang politik yang akan diperjuangkan. itulah kenapa kemudian ada pernyataan lahir bahwa kalo keluarga sendiri tidak memilih partai kita, bagaimana kita bisa meyakinkan orang/kelompok lain? btw, fakta hari ini jelas tidak untuk mendudukkan keluarga besar SYL di ‘kursi pesakitan’, malah ada yang melihatnya sebagai sebuah fenomena politik, tetapi bagi saya itu adalah sebuah deviant, deviant tidak berarti salah. trus, kalo kanda mau tahu pendapat saya terhadap point ke-3, saya cuma mau jawab: “lebih bagus lagi kalo mereka semua ada di dalam partai yang sama dan bersama-sama membangun dan membesarkan partainya”, dan bahwa mereka semua terpilih menjadi politisi di dewan, itu hal lain lagi. itu terkait dengan pilihan masyarakat, tidak ada sangkut pautnya dengan diskusi kita ini……………

Hasbar Meok TABE…SYL naik jd Gubernur bkn lwt Golkar itu fakta…! Tiba2 mencerca org yg memakai kendaraan lain selain Golkar…
Inilah yg dsbut politisi balon2.

Risal Suaib bro Andrie Islamuddin, nah, itu lagi masalahnya: soal etika politik. etika politik tidak berasal dari luar melainkan adalah cerminan diri. antekamma bro?

Risal Suaib bro Hasbar Meok, betul itu faktanya. trus, SYL saat ini akan menjadi calon tunggal Golkar, berarti partainya yang salah karena mendukung orang yang dulu menjadi lawannya. kesalahan itu dimulai dari ketika SYL yang terpilih sebagai ketua partai………….

Akbar M Kurusi Enre’ hahahaha…. yg mana yg tidak sesuai etika politik jika di lihat dari kalimat status di atas ? dan kok bisa ada komen bahwa partainya yang salah?, wkwkwkwkwkwkw… lucu bro.

Akbar M Kurusi Enre’ ‎”Saya, Bapak dan Ibu Saya Golkar, Dari Awal Golkar”, Tegas Syahrul Yasin Limpo Pada Refleksi HUT Ke-47 Partai Golkar Sulawesi Selatan. Tapi pak SYL, kayaknya Bapak dan Ibu SYL serta para pendiri Golkar Sulsel akan sedih melihat anaknya yang ketua Golkar yang juga Gubernur Sulsel tidak mampu mengatatasi BUSUNG LAPAR yang masih banyak terjadi di depan mata kita.

Risal Suaib saya tidak tahu sejauhmana kanda Akbar M Kurusi Enre’ punya pendapat soal etika politik, yang menurut bro Andrie Islamuddin itu masuk kategori tsb, yakni: SYL maju melawan kandidat Golkar pada Pilgub 2007, dan sekarang menjadi ketua partai tsb??? di berbagai negara tidak ada fakta seperti itu!!! orang dari partai yang sama melawan partainya sendiri dalam sebuah pemilu, ini hanya ada dalam kaitannya dengan “seleksi kandidat” internal partai. trus saya katakan bahwa partainya yang salah itu punya argumentasi, sekali lagi ini kaitannya dengan partai yang berbasis ideologis, dan bukan kepentingan sesaat. dan Golkar sebagai partai mustinya punya prasyarat itu —> mana ada sebuah partai mengambil orang menjadi ketua partainya adalah mantan musuhnya di pemilu? tidak ada itu!!! perlu kanda pahami bahwa kita musti membangun partai, termasuk tentunya politisi, yang berkarakter. salah satu point masuknya tentu saja adalah soal etika politik…………..

Andrie Islamuddin Secara SYL Tidak menampilkan kesantunan (etika) dalam berpolitik,,, namun itu juga tidak salah ,,, karena faktanya politik alat untuk mengejar kekuasaan,,, Tetapi perlu diingat,,, perkembangan politik yang ideal dalam tatanan kemasyarakatan juga akan bergantung dari aktor politik yang bersangkutan,,,,

Risal Suaib oia, buat kanda Akbar M Kurusi Enre’. status di atas tidak sekadar mendebat apa yang menjadi isi pemberitaan dari redaksi Fajar, sebagaimana yang kanda maksudkan dalam ‘pembelaan’ atas kiprah SYL dalam panggung politik Sulawesi Selatan. melainkan menjangkau di luar itu, katakanlah: menjadikan politik hari ini mendekati sesuatu yang ideal dan berlaku jamak, atau dalam kaca mata perbandingan politik mau menjelaskan keterkaitan sejumlah fenomena politik lintas wilayah/negara. nah, kasus yang kita diskusikan hari ini nampak lain, alias deviant, dari kebanyakan kasus yang pernah terjadi di belahan wilayah lain. misal, soal politik dalam sebuah keluarga, persaingan antar aktor di dalam dan antar partai, dan partai yang berkarakter………….

Green Cemara ANAK di PAN

Andrie Islamuddin Saya cuma mau bilang parpol adalah politik,,, politik adalah ideologi ,,, dan harusnya kita memberikan pembelajaran bahwa visi dan misi parpol adalah nafas dari ideologi itu,,,,sementara kekuasaan adalah kue politik,,,, kini terserah figur ,,, apakah ia mau makan kue itu darimana saja asalnya dengan menafikkan visi parpol

Akbar M Kurusi Enre’ ‎1. Tolongki pale semuanya jelaskan secara detail apa itu Etika Politik secara teori, lalu tunjukkan yang mana yang tidak sesuai dengan teori tsb sehingga saudara2 bisa mengatakan bahwa SYL tidak menampilkan etika politik (hampir semua literatur yang saya pernah baca, tidak ada satupun yang menunjukkan/mengarah bahwa apa yang ada di status jack melanggar etika politik. 2. Jack, yang anda tulis adalah status. sama dengan ucapan. Ketika anda menulis status (hanya dua kalimat), tidak ada penjelasan bahwa ini adalah untuk menjangkau di luar itu, katakanlah: menjadikan politik hari ini mendekati sesuatu yang ideal dan berlaku jamak, atau dalam kaca mata perbandingan politik mau menjelaskan keterkaitan sejumlah fenomena politik lintas wilayah/negara. nah, kasus yang kita diskusikan hari ini nampak lain, alias deviant, dari kebanyakan kasus yang pernah terjadi di belahan wilayah lain. misal, soal politik dalam sebuah keluarga, persaingan antar aktor di dalam dan antar partai, dan partai yang berkarakter. ARTINYA Saya hanya MELIHAT UCAPAN ANDA YAITU “Saya, Bapak dan Ibu Saya Golkar, Dari Awal Golkar”, Tegas Syahrul Yasin Limpo Pada Refleksi HUT Ke-47 Partai Golkar Sulawesi Selatan. Trus, Saudara dan Ponakan Yang Di Demokrat dan Hanura Itu Juga Bagian Dari Golkar, Golkar Yang Lain Maksudnya Pak………..??? JADI jangan menambah-nambahi dengan saya “membela” SYL, gele2ka dengarki bos, hehehehhe. (YANG ANDA BUAT ADALAH STATUS, BUKAN TULISAN)

Akbar M Kurusi Enre’ makasih. wassalam

Risal Suaib kalo status saya di atas kanda Akbar M Kurusi Enre’ anggap bukan sebuah tulisan, maka jelaskanlah kepada saya di mana letak perbedaannya!!! btw, soal etika politik itu tidak perlu ji sampai harus dijelaskan secara teori kanda. tetapi hampir semua orang tahu bahwa kalo pernah melakukan sesuatu, dan kemudian kita kritik hanya karena pesaing kita akan juga melakukannya, sebagaimana bro Hasbar Meok katakan dalam tulisannya di atas, apakah itu bukan sebuah pelanggaran etika, kanda?

Risal Suaib trus, ini ada hubungannya dengan cara kita berpolitik: bagaimana kalo ada orang yang dicalonkan oleh partai lain, dan kemudian menjadi ketua sebuah partai, yang berarti menjadi lawan dari partai yang dulu menjadi pendukungnya ketika maju dalam pemilu. apakah etika politik diperlukan atau tidak? mohon pencerahannya kanda………

Andries Riesfandhy inimi kayaknya bias dari bahasa Adil Patu sebalum mencalonkan diri di Pilwalkot bahwa “Politik Tak Berujung” membahasnya saja tidak ada habisnya. tidak maujiki bilang kayaknya Bang Risal Suaib kalau ini era dinasti politik SYL dan keluarga. menancapkan kaki di berbagai tempat. gugur di satu tempat masih ada di tempat lain. betul-betul kekuasaan berserabut..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s