Jenis Kelamin, Gender dan Pendeta Agama di Sulawesi Selatan, Indonesia

Galeri

Oleh Sharyn Graham.
Dialihbahasakan oleh Ilham Kamazka Btara Sahadia.

Sebuah kelompok tertentu berperan sebagai pendeta di tengah suku Bugis di Sulawesi Selatan. Bissu digambarkan sebagai sosok berkelamin ganda yang membawa unsur perempuan dan laki-laki. Bagi siapa saja yang tertarik dalam studi jenis kelamin dan gender, suku Bugis, kelompok etnis terbesar di Sulawesi Selatan, menawarkan lembaran kanvas yang sangat kaya untuk penelitian.

Selama beberapa tahun terakhir saya telah melakukan penelitian antropologi mengenai ide-ide dan ragam gender di Sulawesi Selatan, Indonesia. Pada awalnya saya mengenal gender pria dan wanita saja, namun ketika tiba saya menyadari bahwa gender di Sulawesi Selatan jauh lebih kompleks dari itu. Pada suku Bugis di Sulawesi Selatan, terdapat setidaknya empat identitas gender yang diakui ditambah identitas kelima yaitu ‘para-gender’. Selain laki-laki (oroane) dan perempuan (makunrai) (kategori yang mirip dengan yang terdapat di Australia), ada pula calalai* secara biologis ia adalah perempuan yang mengambil banyak peran dan fungsi yang diharapkan dari laki-laki; calabai ** secara biologis ia adalah laki-laki yang dalam banyak hal mematuhi harapan wanita, dan Bissu. Pada artikel ini, saya akan fokus pada Bissu, selaku pendeta/perantara.

Suku Bugis memiliki sejarah lisan yang sangat kaya, serta catatan sejarah yang panjang. Jika Anda bertanya kepada seseorang di Sulawesi Selatan bagaimana dunia mereka tercipta, mungkin Anda akan diceritakan sebuah kisah di mana Bissu memainkan peran utama.

Anda bertanya bagaimana dunia tercipta? Izinkan saya bercerita.

Di botinglangik–di surga, para dewa memutuskan untuk membawa kehidupan pada sebuah planet yang kesepian. Dikirimnyalah salah satu dewa agung, Batara Guru. Tetapi Batara Guru tidak pandai dalam mengatur kehidupan. Dalam mengemban tugas ini, diperlukan dua orang Bissu. Lalu dewa-dewa langit menurunkan dua Bissu yang mendampingi Batara Guru saat ia turun ke bumi. Ketika mereka tiba, kedua Bissu bertugas untuk mengatur kehidupan; mereka melahirkan pranata-pranata masyarakat Bugis, mereka menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat, dan semua hal yang dibutuhkan agar dunia ini hidup. Kehidupan dimulai. (Hajji Bacco’, seorang Bissu)

Selain tradisi lisan, suku asli Bugis telah mencatat kisah sejarah pada daun lontar semenjak abad keenam belas. Terdapat salah satu kisah yang tercatat bercerita tentang Sawerigading dan We Cudai, sebuah peristiwa pernikahan yang mengakibatkan kelahiran manusia pertama di bumi.

“Sawerigading sangat ingin menikahi We Cudai tetapi dia hidup di sebuah pulau di tengah danau. Sawerigading harus mendatangi We Cudai ke tengah danau tapi tak terpikirkan cara untuk membawanya ke sana. Akhirnya, Sawerigading memutuskan membuat sebuah perahu dan mendayung ke tengah pulau untuk mendatangi We Cudai. Tapi bagaimana cara membuat perahu? Andai saja ia bisa merobohkan satu pohon besar. Tapi ia tidak cukup kuat untuk melakukannya. Sawerigading menangis frustasi hingga larut malam. Dia berpikir ia tidak akan pernah bisa menebang pohon ini dan membuat sebuah perahu dan ia tidak akan pernah mencapai We Cudai. Tapi Bissu mendengar tangisan Sarawigading dari atas langit. Lalu, sang Bissu turun dan berkata, “Jangan kau khawatir, akan kubantu kau menebang pohon dan merakit perahu.” Sang Bissu merobohkan pohon itu karena ia memiliki kekuatan pria dan wanita; manusia juga dewa. ”

Kisah-kisah nenek moyang berfungsi untuk menunjukkan bahwa Bissu memiliki posisi penting dalam pikiran orang Bugis di masa lalu. Selain itu, peran penting tersebut memungkinkan Bissu untuk menegaskan juga mempertahankan posisi terhormatnya dalam masyarakat Bugis masa kini.

Jadi siapakah Bissu itu?

Bissu digambarkan sebagai sosok berkelamin ganda yang membawa dua elemen gender manusia perempuan dan laki-laki. Sementara seorang Bissu sering digambarkan hermafrodit, meski secara anatomi adalah seorang laki-laki, Bissu pada kesehariannya berpenampilan dengan karakteristik pria dan wanita. Seorang Bissu membawa sebilah badik(pisau) tapi memakai bunga di rambutnya layaknya wanita. Tidak hanya harus menggabungkan atribut perempuan dan laki-laki, Bissu juga harus mengalami dua alam; alam makhluk dan alam roh. Sangatlah penting bagi Bissu memiliki hubungan baik dengan alam roh untuk membuat kontak dengan Dewata. Untuk melakukan hal ini, Bissu harus menjadi bagian roh (Dewata). Agar Bissu dapat dirasuki oleh roh -sehingga mereka dapat melimpahkan berkat- seorang Bissu juga harus menjadi bagian manusia. Pada intinya,Bissu adalah seorang perempuan juga laki-laki, makhluk sekaligus dewa, yang bisa dan sering dirasuki oleh roh leluhur untuk memberikan berkat.

Dengan demikian, peran utama seorang Bissu adalah untuk melimpahkan berkat. BerkatBissu mencakup segala hal. Pemberkatan dari Bissu dilakukan sebelum menanam padi dan sebelum panen; Bissu memberkati pernikahan (indo’ botting), dan memberikan berkat kepada orang-orang sebelum mereka berangkat haji ke Mekah. Tidak ada hal yang bertentangan karena masyarakat Bugis berhasil menyelaraskan kepercayaan pra-Islam dengan Islam, yang melarang perilaku transgender. Misalnya, sebelum Islam, suku Bugis menghormati sosok dewa yang disebut PaTotoe. Kebanyakan suku Bugis percaya bahwa Allah sebenarnya adalah PaTotoe tetapi dengan nama yang berbeda. Selain itu, sementaraBissu masih melakukan ritual panggilan untuk dirasuki roh, mereka selalu memulai dengan meminta berkat dan saran Allah. Terakhir, Bissu telah mengubah beberapa praktek mereka seperti berjalan di atas api karena diyakini bertentangan dengan ajaran Islam.

Bagaimana Bissu melimpahkan berkat?

Dalam memberikan berkat, seorang Bissu harus dirasuki oleh dewa yang sesuai. HanyaBissu yang dapat menjadi perantara karena ambivalensinya; manusia sekaligus dewa, lelaki sekaligus perempuan. Untuk membangunkan Dewata, pertama kali, seorang Bissu akan melakukan ritual yang rumit yang melibatkan memmang (nyanyian), musik, dan persembahan makanan. Setelah Dewata terbangun, mereka memilih dewa mana yang paling mampu memberikan berkat yang diminta. Dewa ini kemudian akan turun dan merasuki sang Bissu. Ketika Bissu kerasukan, sikapnya berubah: mereka menjadi mudah marah dan agresif. Bagaimanapun, perubahan dalam sikap ini tidak cukup untuk meyakinkan orang-orang (terutama orang yang telah meminta berkat) bahwa sang Bissusekarang telah dirasuki. Mereka mencari bukti bahwa ia telah dirasuki. Menanggapi tantangan ini, Bissu kemudian harus melakukan maggiri, atau menusuk diri. Bissu akan mengambil keris keramat, badik, yang telah diwariskan turun-temurun di antara para Bissu, dan berusaha untuk menembus kulit mereka dengan badik tersebut. Sang Bissu bahkan akan berbaring di lantai dengan badik ditekan ke dalam tenggorokan mereka. Badik juga akan ditusukkan pada telapak tangan dan pelipis.

Jika badik tidak menembus kulit, Bissu dinyatakan kebal, dan dengan demikian kekebalannya terbukti – sebuah tanda pasti bahwa Bissu telah dirasuki oleh Dewata sakti. Sosok manusia Bissu, dan dewa yang telah menguasainya, kemudian dapat memberikan berkat kepada yang memintanya. Namun, jika badik tersebut mampu menembus dan melukai sang Bissu, dikatakan ia dirasuki oleh roh yang lemah, tidak berkekuatan atau bahkan ia tidak dirasuki roh leluhur sama sekali, dan karenanya tidak diperbolehkan untuk memberikan berkat.

Bagaimana menjadi Bissu?

Diyakini bahwa seseorang dilahirkan dengan kecenderungan sebagai Bissu. Kebanyakan terlihat dari bayi dengan alat kelamin yang ambigu. Namun, ambiguitas saja tidak dapat memastikan bahwa seseorang dapat menjadi Bissu. Selain itu, alat kelamin ambigu tidak harus tampak; seorang laki-laki yang menjadi bissu diyakini memiliki ruh perempuan di dalamnya. Pada usia sekitar dua belas tahun, jika seorang anak menunjukkan keterkaitan dengan dunia roh, ia kelak akan dipersiapkan untuk menjadi Bissu. Di masa lalu, seorang calon Bissu akan mempelajari keahlian di kerajaan. Saat ini, seorang anak akan belajar dariBissu dewasa. Setelah bertahun-tahun belajar, calon Bissu akan menjalani serangkaian ujian untuk menjadi Bissu. Calon Bissu akan berbaring di atas sebuah rakit bambu di tengah danau selama tiga hari tiga malam tanpa makan, minum, dan bergerak. Jika berhasil bertahan hidup ini dan terbangun dengan mampu berbicara fasih bahasa suci Bissu (BasaTorilangi, Basa Bissu atau Bahasa Dewata, bahasa para dewa), maka ia kemudian ditahbiskan sebagai Bissu.

Sebuah studi tentang Bissu dengan peran dan posisi mereka dalam masyarakat suku Bugis memiliki potensi untuk membuat beberapa kontribusi besar untuk pemahaman kita tentang bagaimana masyarakat yang berbeda mengatur dan menafsirkan gender. Tidak semua masyarakat menyatakan bahwa hanya ada dua gender, wanita dan pria, di mana masing-masing dipasangkan dengan dua jenis kelamin, perempuan dan laki-laki. Beberapa masyarakat, seperti suku Bugis, mengakui kemungkinan empat kategori gender, di samping kelompok kelima (para-gender) yaitu Bissu. Kita dapat belajar banyak dari suku Bugis tentang penerimaan dan penghormatan untuk susunan lengkap identitas gender.

Catatan:
* Sebuah contoh individu yang dapat memperjelas konsep calalai. Rani bekerja bersama laki-laki sebagai pandai besi, membuat keris, pisau kecil, dan pisau lainnya; mengenakan pakaian pria, dan mengikat sarungnya seperti pria. Rani juga tinggal bersama seorang istri dan anak angkat mereka. Meskipun Rani bekerja dengan laki-laki, berpakaian sebagai pria, mengisap rokok, dan berjalan sendirian di malam hari, melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak dilakukan wanita lainnya, Rani tetaplah seorang perempuan dan tidak dianggap sebagai pria. Rani tidak berkeinginan menjadi seorang pria. Rani adalah calalai. Anatomi Rani sebagai perempuan melebur dengan pekerjaan, perilaku, dan seksualitasnya, memungkinkan Rani untuk menyatakan diri dan dinyatakan sebagai calalai.
** Calabai, meski memenuhi harapan-harapan sebagai seorang peremupan, calabai tidak menganggap diri mereka perempuan, tidak pula dianggap perempuan, dan tidak ingin menjadi perempuan (baik dengan menerima batasan-batasan yang diterapkan pada perempuan, seperti tidak keluar sendirian di malam hari, atau mengubah tubuh mereka melalui operasi). Sedangkan calalai cenderung lebih sesuai dengan norma-norma laki-laki,calabai telah menciptakan peran spesifik untuk diri mereka sendiri dalam masyarakat Bugis, terutama dalam peran mereka sebagai Ibu Pernikahan (indo’ botting). Sebagai Ibu Pernikahan, calabai mengambil alih total pengaturan pernikahan, termasuk makanan, dekorasi, pengaturan tempat duduk, dan make-up dan gaun pengantin serta rombongan mereka.

Bibliografi
– Andaya, L., “The Bissu: A Study of a Third Gender in Indonesia’’, dalam: Barbara Andaya (ed.), Other Pasts: Women, Gender, and Histo- ry in Early Modern Southeast Asia, Honolulu: University of Hawai’i Press (2000), hlm 27-46.
– Hamonic, G., Le Langage des dieux: cultes et pouvoirs pre-islamiques en pays Bugis Celebes-Sud Indonesie, Paris: Edisi CNRS (1987). – Matthes, BF, ‘Over de Bissoe’s of Heidensche Priesters en Priesteressen der Boeginezen’, Verhandelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Afdeling Letterkunde (1872), 17:1-50.

Sharyn Graham, MA adalah seorang kandidat PhD di Departemen Studi Asia dan Antropologi di University of Western Australia belajar dengan Dr. Greg Acciaioli dan Dr. Lyn Parker. Saat ini ia memegang beasiswa enam bulan dari Huygens untuk belajar di KITLV di Belanda dengan Dr. Roger Tol dan Sirtjo Koolhof. sharyngr@cyllene.uwa.edu.au

sumber: http://www.iias.nl/nl/29/IIAS_NL29_27.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s